Saturday, April 30, 2005

balada hari senin

selamat pagi
matahari di awal minggu
menyapa selamat berjuang
menyapa selamat menunggu
ayoooooooo...ayunkan kakimu
berlari mengejar pintu-pintu bus
yang terbuka..menanti kau naik
dan siap juga meninggalkanmu

di balik lembar lebar buku doa kecil biru
melirik aku was was menunggu
jangan sampai bus tercinta lewati aku

wus..wus..wus...
mobil-bus-motor-orang-orang
hendak kemana mereka..?
seperti aku juga
hendak kemana aku..?

itu dia..itu dia..
bus penuh sesak nafas
kaki berhimpit, muka beradu
bau membuat hidung menyempit
lutut lutut manusia beradu

mendesak aku ke dalam
agar aku ikut bergerak berpindah
dibawa roda roda berputar
dibawa balada balada tegar

kadang prihatin juga fikirkan balada ini
sampai kapan? tanyaku.
tapi ini adalah 'puisi' yang rimanya selalu sama
tiap senin, selalu sama

tapi aku yakin,
tiap tiap hari
rima itu
punya arti yang berbeda.

Saturday, April 09, 2005

takluk

Maaf ku pada alam
yang mengamuk tadi malam
membuat rumahku seperti kolam
tapi tak bisa buat berendam

Maaf ku pada langit
yang sudah bikin aku sengit
geludak geluduk tak mau tunduk
berujung hujan deras membasahi handuk

Maaf ku pada sungai
yang sudah menyerangai
meluapkan isi perut yang berbau bangkai
masuk dalam rumahku tanpa kompromi damai

Maaf ku pada hutan
yang akar dalamnya sudah dibabat
tak tinggalkan daun apalagi batang satu kerat
oleh manusia manusia bermartabat

Maaf ku pada khalik
yang membuat fikiran jadi terbalik
bertekuk batin menunduk tengkuk
hingga hanya satu kata meringkuk
aku takluk!

balada atap sekolah

bu bu bu
aku pulang
kakiku kena palang
bertancap paku
di ruang kelasku

bu bu bu
kata bu guru
tadi malam
ada badai menderu

atap sekolah jatuh ke tanah
rebah tak punya sangga
aku jalan tak bersepeda
juga tak bersepatu

bu bu bu
paku itu menancap di kakiku
teriak teriak aku pulang
karena toh juga teman teman
semua pulang

bu bu bu
kapan aku bisa kembali sekolah
beratap kayu beralas sepatu
karena atapku kini langit biru
dan alasku tertancap paku

*keprihatinan untuk banyak gedung sekolah yang rubuh, karena tidak ada biaya perbaikan, ditengah kota yang mewah dan dengan mal mal angkuh memandang ke bawah atap gedung sekolah-sekolah yang menanti saat rubuh.

tertinggal

Hati yang melirik lirik
Tangan yang menggenggam
Rayu yang palsu
Kemeja biru kotak kotak dadu

Mata ini tahan tak kedip
Hati ini tahan tak berkutik
Sampai rasio ku terpenjara
Tanpa ku beri kesempatan bicara

Tak butuh aku belahan jiwamu kini
Tak hendak aku perduli pranata mu kini
Ku cari senyummu yang dulu
Ku cari sejuk hatimu lalu

Ada, tak..!!
Hadir, tak..!!
Tampak, tak..!!

Senyum-mu, tertinggal di bulan..!!

poetry for charles-camilla

Image hosted by Photobucket.com

Today is Charles and Camilla wedding day.Britain's Poet Laureate Andrew Motion has written "Spring Wedding," a poem commemorating the marriage of Prince Charles and Camilla Parker Bowles


I took your news outdoors, and strolled a while
In silence on my square of garden-ground
Where I could dim the roar of arguments,
Ignore the scandal-flywheel whirring round,

And hear instead the green fuse in the flower
Ignite, the breeze stretch out a shadow-hand
To ruffle blossom on its sticking points,
The blackbirds sing, and singing take their stand.


I took your news outdoors, and found the Spring
Had honored all its promises to start
Disclosing how the principles of earth
Can make a common purpose with the heart.

The heart which slips and sidles like a stream
Weighed down by winter-wreckage near its source --
But given time, and come the clearing rain,
Breaks loose to revel in its proper course.

Motion, asked about how he approached the writing of the peom, was quoted in the Press Assocation as saying: "This relationship has, as all the world knows, had all kinds of difficulties and trials and tribulations to deal with.

"I thought, rather than address that directly, as might be appropriate in a piece of journalism, in a poem it would be more interesting and richer to treat it in terms of this image of the stream with certain obstacles near the source, but with the passage of time beginning to run clearly in its proper course.

"That is how I feel about the whole wedding."

Friday, April 08, 2005

jingkrak jingkruk

jingkrak jingkruk
aku jadi kemaruk
weruh wong donyo
podo garuk garuk

nggaruki kantong
nggaruki bodhong
nggaruki tletong
gak ono sing dong

jingkrak jingkruk
aku tak ning pasar ngangkruk
weruh mbok sing garuk garuk
duite ilang keno garuk
preman pasar ngangkruk

::
donyo=dunia
kemaruk=rakus
bodhong=pusar
nggaruki=menggaruk
tletong=kotoran manusia/hewan
sing=yang
dong=mengerti
ngangkruk=nama pasar di yogya
weruh=melihat
keno garuk=terkena razia petugas