Saturday, December 31, 2005
mengendus nasib
tak lelah
menghampiriku
siang siang
dengan teriknya
mendarat di ubun kepalaku
diam diam
hidungku mengendus endus
apa kabar nasibku
berhubung
kurang dari satu menit lagi
orang bilang
"tahun baru"
Tuesday, December 27, 2005
apakah ada
yang dilakukan manusia
tanpa satu pun *alasan*
yang mendasari dilaksanakannya
tindakan itu?
kalaupun itu ada,
apakah tindakan itu adalah
*mencintai*..??
*author unknown
hujan bulan desember
jatuh ditengah awan gerimis
patuh ditengah angin yang mengemis
tanpa sedikitpun membocorkan
rahasia cinta
dari balik sebilan lapis awan
yang melahirkan gerimisnya
Thursday, November 03, 2005
senja
dibingkai gelap
matahari mengintip sebelah
bukan akan terbit, sayang...
tapi menuju akhirnya,tenggelam...
kepul debu asap menguap terangkat
meninggalkan
yang harus berakhir
katanya...
"jangan salahkan cinta..,
karena kamu sudah memilih..."
Thursday, October 27, 2005
ruang
jarak
kehampaan
ketidakpastian
kuatir
bertanya
yakin
ragu
matanya
tawanya
kabarnya
kosong
tiada
hening
tak bersebab
tapi berakibat
datang begitu saja
tanpa kita (aku??) minta
kosong
dijembatani ruang ruang panjang
dengan beribu bingkai lukisan tentang rindu
dan pintu pintu yang belum semua aku ketuk
namun ragu juga
karena tak tau apa di dalamnya
hujan ini jatuh di kantung mata
tak ingin kuseka
karena ini jejak cinta
tepuk bahuku
bila mendung itu datang lagi
dan tak akan ku tunggu
biar pun itu
satu matahari
in a silence
may God listen to me
wheather He
know it..or even..
left His smile for me
that i can't understand ever
in a silence
mawar kuning
di sehelai daun mawar
berkelopak kuning
aku tahu ini jarang
dan sedikit berduri
sandarku
tetap pada batangnya
sadarku
tetap pada kelopaknya
Tuesday, October 11, 2005
gadis kecil
diseberangkan gerimis
di tangan kanan kanannya
bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang
ada pohon dan seekor burung
*sajak sapardi djoko damono
Monday, October 03, 2005
sungai
dimana aku kini
sedang mengarungi arusnya
menabrakkan perahu ku
pada batu batu di tepiannya
dan menikmati wajahku
tersiram dinginnya
ujung ujung percik air
mengayuh dayungku
lebih keras
dan aku menikmati
risik daun bambu
dan silau akrab
sinar matahari yang
mengintip di sela sela daun
sungai itu panjang
dan berarus besar
ku bisikkan pada telinga kananmu
kalau sungai itu adalah
sungai cinta
Sunday, October 02, 2005
rumah kekal
dimana rindu dan sayang
berselingan menjadi kotak kotak jendela
dan tak lengkap tanpa
tirai tangis dan air mata
rumahku adalah rumah bahagia
derai tawa berjajar
riang ria bersandar
sepanjang tembok putih
lorong belakang dan dinding ruang tamu
rumahku adalah rumah sementara
untuk menuju rumah Bapa
kekal di surga
Friday, September 09, 2005
pukul lima pagi
namun bulan masih belum ikhlas beranjak
meninggalkan malamnya yang damai
maka matahari dan bulan pun
saling memandang
dari ujung ujung langit yang berbeda
dan aku melihat mereka berdua
saling berpandangan
sampai pagi benar benar ada
tanpa sedikit pun jejak bulan
Wednesday, September 07, 2005
Tuesday, September 06, 2005
sungai diam
kecil, tak berarus
sedikit lumut dan lintah lintah beria ria di dasarnya
pagi ini, sungai itu tak lagi mengalirkan air
mata airnya kering.
tak ada lagi cerah keperakan di muka airnya
yang ada hanya sinar matahari yang menerobos
di sela sela daun bambu
sinarnya mencari air yang membuat kilau keperakan
sungai itu mati
tak ada gemericik, tak ada arus
yang ada hanya diam
Tuesday, August 30, 2005
kalau
aku setia menanti gerimis hujan
ingin menangis bersama langit
yang deras menjatuhkan tangis hujan
aku bersembunyi di rapat rimbun ladang jagung
bercengkrama dengan serabut kuning menjulur
aku senang menangis bersama rimbun daun
dan kubujuk bulan sabit awal bulan september
untuk memberi aku tempat
tidur meringkuk diujung sabitnya
karena aku ingin melihat bintang
ditemani seribu kali bulan purnama
Sunday, August 28, 2005
Thursday, August 25, 2005
embun
di ujung daun
ada sebuah embun
yang bening liat tak mau menetes
apa yang ia tahan?
mungkin ia menunggu matahari
menguapkan dirinya
menjadi udara di awan awan
hingga ia akan jadi embun lagi
pada sebuah pagi
sajak agustus
aku sandarkan batinku
pada sebuah jiwa
yang pada langit yang dulu juga
memandang satu bintang yang sama
dari dua tempat yang berbeda
Tuesday, August 16, 2005
cikanyere
jerit - anak anak dunia
sesal - hati orang berdosa
air mata - duka hati yang terluka
dan Engkau
merentangkan tanganMu
"mari, datanglah kepadaKu, kalian yang letih lesu
dan berbeban berat, maka Aku akan memberikan
kelegaan kepadaMu..."
maka kami,
anak anak bumi datang merangkulmu
sebelum tanah bumi dingin kelak
merangkul jasad kami yang membisu
Balada Patas Enam
di larik besi atap bus kota
keringat mengucur di punggung punggung
minyak wajah keluar dari pori pori muka
betis kencang nyaris keram
mata nanar lelah merah
rambut kuyup bukan karena hujan
tapi karena keringat di kepala, wahai sayang
semoga jerih lelah hari ini
berujung pada jumpa bahagia
orang tua, istri,suami anak menanti
di depan pintu rumah
yang bak pintu surgawi
Friday, August 12, 2005
dua hal
*perasaan* mencintai
dan *orang* yang kita cintai
*perasaan*
adalah luapan emosi, kegalauan, penantian, curiga,sedih, gembira,bangga,tersanjung,senang,kangen, rindu, sayang,benci,tangis,luka,duka,perih, kuatir,bertanya-tanya,tak jelas, keyakinan, tawa, rayuan, ketidak-pastian,risiko,keberanian,jujur,khianat,mengumpulkan kebaikan, menerima kelemahan ah...banyak..!!
*orang* adalah KAU
sampai saat ini..aku masih diam
untuk memisahkan air dan pasirbatuhalus
untuk memahami
apakah aku sungguh mencintai *orang* dengan segenap *perasaan*
atau sekedar bermain main dengan *perasaan* saja
*puisi untuk irma deviani moningka
Thursday, August 11, 2005
tidak fokus
jiphiohjfyuyvhvhjnnmjk;ljkl
7hghy8y890f69gygbhjjkl;
nkljlkjiouio89p-89jiohj
l;jkhkyiopy6890gu;hjggyuyuuiopu9090j;hiopyiopyophjljop
jkl;hkl;h;guiguioyiop
\y89puighlh;jiouophj
;hhkl;h;klhil;
vhjvhjfyytuiy89u9[jhhjhjy8pgfthhjl;iophhiop
nah! ini dia!
kalau aku
mengetik pakai sarung tinju
arusmu
membawaku
berlayar
ke tepian
sungai sungai
dalam
di hutan
kala malam
arusmu
lalu menghantam
perahuku
hingga terbalik
dan akupun
tenggelam
arusmu
memutar kuat
tubuhku
hingga
tak kenal aku
dimana atas
dimana bawah
arusmu
meneggelamkanku
pada dunia
dasar sungai
yang dingin
dalam
ia diam
namun bergerak
dan siap
menghanyutkanku
lagi...
Wednesday, August 10, 2005
aku masih punya asa
pada dahan dahan cemara
yang ujung daunnya
menahan sebutir embun
di pagi hari
aku titipkan mataku
pada elang
yang terbang melintasi angkasa
untuk melihat dirimu
jauh dari atas awan
aku titipkan sayangku
pada angin dan awan
yang saling berangkulan
mengarak udara pagi
di sela sela hangat sinar matahari
karena aku belum pernah jumpa
juga belum bersua
aku masih punya asa
untuk saling memandang mata
di tengah tengah deru waktu
hidup kita
Tuesday, August 09, 2005
bintang
lewat tangan tangan awan
yang memeluknya setiap malam
kusayang bintang
lewat desau angin malam
yang meniup wajahnya setiap malam
katakan pada alam
aku tak mau kehilangan malam
karena aku ingin selalu melihat
bintang yang paling terang
Sunday, August 07, 2005
bunga dan doa
bila hari ini kau masih ada
akan ku kirim kau bunga
dan setarik nafas
dengan hembus kata kata
"selamat ulang tahun"
berhubung kau telah tiada
baik ku kirim kau doa saja
dan setarik nafas
dengan hembus kata kata
"semoga engkau bahagia di sisi-Nya"
amin
in memoriam :
Yulius Sardjono
lahir : 7 Agustus 1940
wafat : 16 Mei 2002
padahal
di sudut istana bernama 'gereja'
aku ini seperti sundel bolong
di sudut hamparan bernama 'kubur'
aku ini seperti topeng monyet
di sudut ramai bernama 'pasar malam'
padahal,
aku manusia!
seribu tanya
seribu tanya
pada gulungan riak riak
air sungai
di tengah hutan rimba
hanyutlah..
bergeraklah..
benturlah ujung ujung batu
sapalah setiap ujung daun
dan bermainlah dengan lintah
seribu tanya itu
akan menemukan muara
di dekat samudra
bernama 'jawab'
Monday, August 01, 2005
ingin
kering
di musim kemarau
suara parau
burung burung
malam
debu terbang
tak ada angin
tak ada dingin
yang ada hanya
sebuah ingin
Sunday, July 31, 2005
untuk anak anak pagi
hitam plastik
digenggam di jari jari kusam
menunggu bus yang kusam pula
se kusam kulit dan nasibmu,nak
kita ini sesungguhnya sama
mengisi hari hari
menjalani nasib
menapaki tapak hidup
yang sudah ada sebelum hari ini
kita tinggal ikut
kita tinggal larut
di bawah matahari yang sama
di kepul debu yang sama
di recahan waktu yang tak bisa
kita tahu, kemana ujungnya
kutitipkan doa setiap bunda
untuk anaknya
pada bahumu yang kurus
dan matamu yang tanpa harap
yang hanya berani menatap mentari
yang empunya memberimu garis hidup
seperti yang kau pikul hari ini
setiap tangan mu
merogoh lobang sepatu
tuan tuan puan puan
di terminal lusuh debu itu
kau tinggalkan kilap
kau kibaskan debu
namun tangis batinmu
tak bisa hilang
hanya dalam sewaktu
note:
Sajak ini terinspirasi dari puluhan anak anak kecil..yang tiap hari selalu bersama saya menunggu bus kota..di halte ciliwung. mereka adalah anak anak penyemir sepatu yang sehari harinya mencari nafkah di terminal blok M. tiap anak selalu membawa kantung hitam. isinya hanya 3 benda : sikat,semir,dan lap
kuasa surga
wahai nasib
ku salami kau
wahai hidup
ku sapa kau
wahai lahir
ku tanya kau
wahai derita
ku tampar kau
wahai mulut lancang
ku seka kau
wahai tangis
ku balut kau
wahai luka
ku sisir kau
wahai kusut rambut
ku hunus kau
wahai jahanam
ku intai kau
wahai musuh
ku tebar kau
wahai kuncup melati
ku tantang kau
wahai panglima
ku gertak kau
wahai penggoda
dan aku mulai bernyanyi
lagu lagu bisu
tanpa ku bisa melawan
pada kuasa surga
cinta
kenyataan kenyataan
yang lalu lalang
di depan mata ku
kukalungkan clurit
pada nadi tangannya
kuhunuskan pisau
pada ulu hatinya
sampai aku mau menukarnya
dengan sebuah rasa bernama
cinta
tentang cinta
sendiri, terdengar bisikan lirih di sela-sela bibirmu
yang semakin membiru
dalam gelap yang mulai temaram
tak pernah kau tanyakan lagi cinta itu
yang mungkin menjauh, mungkin pula membeku
biarlah malam ini berakhir, itu pikirmu
namun hatimu seakan terpuruk di situ
adakah cinta yang menjadikan dukamu harus terlahir?
Jakarta, 7 November 2002
oleh syahfida
www.cybersastra.net
marah
kata kata
yang bikin muak
yang ku dengar dari mulutmu
perempuan di mata mu
tak lebih dari sekedar
sandingan yang pantas
untuk seorang KAU
yang sedang berpantas pantas diri
untuk jangan sampai disebut
PERJAKA TUA
pagi ini
aku jadi marah!!
takut
semakin dalam aku
membuat kawah luka
di dasar batinmu
kini kau suka
kelak saat waktu itu
*mungkin* tiba
saat kucabut pisauku
yang menohok dalam
ku tinggalkan
kau bekas
duka
luka
darah
nanah
yang tak akan mudah
mengering
lalu hilang
mawar
pada bunga mawar yang masih kuncup
selagi ia tidur
dan saatnya rekah
akan ku tanya padanya
mimpikan apa ia
tentang aku
Thursday, July 28, 2005
sajak sajak lain oleh sapardi
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
::KUKIRIMKAN PADAMU
kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.
Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.
::AIR SELOKAN
"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.
Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.
Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:
"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"
Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.
::AKULAH SI TELAGA
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya
::ATAS KEMERDEKAAN
kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari yang ketujuh tiba
sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu :
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah
Horison
Thn III, No. 8
Agustus 1968
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
::BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari
matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri
yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
::CARA MEMBUNUH BURUNG
bagaimanakah cara membunuh burung
yang suka berkukuk
bersama teng-teng jam dinding
yang tergantung sejak kita belum dilahirkan itu?
soalnya ia bukan seperti burung-burung
yang suka berkicau setiap pagi
meloncat dari cahaya ke cahaya
di sela-sela ranting pohon jambu
(ah dunia di antara bingkai jendela!)
soalnya ia suka mengusikku tengah malam,
padahal aku sering ingin sendirian
soalnya ia baka
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
::DI ATAS BATU
ia duduk di atas batu
dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya
di air sehingga memercik ke sana ke mari
ia pandang sekeliling :
matahari yang hilang - timbul
di sela goyang daun-daunan,
jalan setapak yang mendaki tebing kali,
beberapa ekor capung
-- ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
::DI SEBUAH HALTE BIS
Hujan tengah malam
membimbingmu ke sebuah halte bis
dan membaringkanmu di sana.
Kau memang tak pernah berumah,
dan hujan tua itu
kedengaran terengah
batuk-batuk dan tampak putih.
Pagi harinya
anak-anak sekolah
yang menunggu di halte bis itu
melihat bekas-bekas darah
dan mencium bau busuk.
Bis tak kunjung datang.
Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu.
Mereka menjadi kesal dan,
bagai para pemabok,
berjalan sempoyongan
sambil melempar-lemparkan buku
dan menjerit-jerit
menyebut-nyebut namamu.
perahu kertas
kumpulan sajak
1982
::PERTAPA
Jangan mengganggu:
aku, satria itu,
sedang bertapa dalam sebuah gua,
atau sebutir telur,
atau.
sepatah kata
-- ah, apa ada bedanya.
Pada saatnya nanti,
kalau aku sudah dililit akar,
sudah merupakan benih,
sudah mencapai makna
-- masih beranikah kau menyapaku, Saudara?
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
::PERAHU KERTAS
Waktu masih kanak-kanak
kau membuat perahu kertas
dan kau layarkan di tepi kali;
alirnya Sangat tenang,
dan perahumu bergoyang menuju lautan.
"Ia akan singgah di bandar-bandar besar,"
kata seorang lelaki tua.
Kau sangat gembira,
pulang dengan
berbagai gambar warna-warni di kepala.
Sejak itu
kau pun menunggu
kalau-kalau ada kabar dari perahu
yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.
Akhirnya
kau dengar juga pesan si tua itu,
Nuh, katanya,
"Telah kupergunakan perahumu itu
dalam sebuah banjir besar
dan kini terdampar di sebuah bukit."
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
::PERISTIWA PAGI TADI
Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.
Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, Ialu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.
Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu tentang aku yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulans dan meninggal sesampai di rumah sakit.
Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa itu.
::PESAN
Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya.
Kami saling mencinta, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.
Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan .....
::PESTA
pesta berlangsung sederhana.
Sedikit tangis, basa-basi itu;
tinggal bau bunga gemetar
pada tik-tok jam,
ingin mengantarmu
sampai ke tanah-tanah sana
yang sesekali muncul
dalam mimpi-mimpinya
...di sumur itu,
si Pembunuh membasuh muka,
tangan, dan kakinya
::PUISI CAT AIR UNTUK RIZKI
angin berbisik
kepada daun jatuh
yang tersangkut kabel telpon itu,
"aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!"
kabel telpon
memperingatkan angin
yang sedang memungut daun itu
dengan jari-jarinya gemas,
"jangan berisik, mengganggu hujan!"
hujan meludah
di ujung gang
lalu menatap angin dengan tajam,
hardiknya, 'lepaskan daun itu!"
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982
tunggu aku
tunggu aku
hingga kau lihat aku rebah tangis
di bawah kaki salib
awan hitam
semoga masih ada awan hitam
yang justru membuat kita bisa terlihat
semakin bersinar
sapardi djoko damono
TENTANG MATAHARI
Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil,
adalah bola lampu
yang di atas meja
ketika kau menjawab surat-suratyang teratur
kau terima dari sebuah
Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh,
adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu
sambil berkata:"Ini matahari! Ini matahari!"Matahari itu?
Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.
BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari
matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri
yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayangaku
dan bayang-bayang tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami
yang harus berjalan di depan
KAMI BERTIGA
dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau dan kata --kalian tahu,
pisau barulah pisau
kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat
disampaikanawan kepada hujan yang menjadikannya tiada
MATA PISAU
mata pisau itu tak berkejap menatapmu
kau yang baru saja mengasahnya berfikir:
ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu
HUJAN BULAN JUNI
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
DALAM DIRIKU
Because the sky is blue
It makes me cry (The Beatles)
dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya
PADA SUATU HARI NANTI
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi of antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
tak ada
daripada papan papan reklame
yang selalu pasti kujumpai
setiap pagi saat aku berangkat
dengan wujud yang sama
tulisan yang sama
lokasin yang sama
pada jam yang sama
doa
matahari masih terbit
pada waktu yang sama
seperti hari hari kemarin
tandanya
masih ada yang tak pernah ingkar
Dialah Tuhan
kalau terluka
kalau cinta? selamat berjumpa dengannya!
kalau benci? ah..itu sementara!
kalau rindu? ah..apa mungkin jumpa!
kalau tersanjung? jangan tersandung!
kalau merasa jadi pahlawan? cepatlah sadar!
kalau nafsu menggebu? carilah Tuhan!
kalau minta dicinta? memang kau siapa?
kalau menunggu? yakinkah itu pasti?
kalau terluka? sudah ku bilang, apa..!!
sudahlah
tapi takut berjumpa
aku rindu cinta
tapi takut diluka
sudahlah
aku jalani saja
sebagaimana ada
di sini
aku bisa menangis
merindu yang tak pernah aku jumpai
di sini pula
aku bisa terhanyut haru
hanya melihat deretan kata kata mu
hari ini
di sini pula
aku hanya bisa menyesali jalanku
bertemu denganmu
Thursday, July 07, 2005
ijinkan aku
yang selalu ada di langit
berkediplah terus
sampai langit runtuh
dan selama itu pula
ijinkan aku
memandang ke sana
tempat bintang ada
Tuesday, June 21, 2005
tak punya jawab
yang tak pernah merasakan panasnya diriku
kau adalah senja
yang tak pernah melihat sinar merah diriku
kau adalah hujan
yang tak pernah hadir ditemani gelegar petirku
kau adalah ombak
yang tak pernah memiliki riak riak ku
kau adalah pantai
yang tak pernah memiliki pasirku
kau adalah gempa
yang tak pernah merasakan getaran halusku
kau adalah bulan
yang tak pernah merasakan malamku
kau adalah pelangi
yang tak pernah memiliki guratan tujuh warnaku
kau adalah bara
yang tak pernah melihat lahar merahmu
kau adalah gunung api
yang tak pernah memiliki puncak tinggiku
kau adalah danau
yang tak pernah memiliki tepianku
kau adalah air bah
yang tak pernah memiliki arusku
kau adalah mawar
yang tak pernah memiliki harumku
kau adalah duri
yang tak pernah merasakan tajamku
kau adalah mata
yang tak pernah memiliki bolamataku
kau adalah angin
yang tak pernah menghembuskan sejukku
kau adalah cakrawala
yang tak pernah melihat langitku
kau adalah merpati
yang tak pernah mengepakkan sayap putih ku
kau adalah mendung
yang tak pernah didampingi awan gelap bergantungku
kau adalah waktu
yang tak pernah hadir dalam detikdetik hidupku
tapi bagaimana bisa
api tanpa panas ?
hujan tanpa gelegar petir ?
ombak tanpa riak riak ?
pantai tanpa pasir ?g
empa tanpa getar ?
bulan tanpa malam ?
pelangi tanpa tujuh gurat warna ?
bara tanpa lahar merah ?
gunung api tanpa puncak tinggi ?
danau tanpa tepian ?
air bah tanpa arus ?
mawar tanpa harum ?
duri tanpa tajam ?
mata tanpa bolamata ?
angin tanpa sejuk ?
cakrawala tanpa langit ?
merpati tanpa sayap putih ?
mendung tanpa awan gelap ?
waktu tanpa detikdetik ?
aku tak punya jawab
*untuk sebuah kehampaan yang terlihat dan terasa
Tuesday, May 17, 2005
be careful of
Your thoughts,
For they become your words.
Your words,
For they become your actions.
Your actions,
For they become your habits.
Your habits,
For they become your character.
Your character,
For it becomes your destiny.
Think before you act;
think twice before you speak.
Some people use language to express thought, some
to conceal thought, and others instead of thought.
"But I say to you that for every idle word men may
speak, they will give account of it in the day of judgment."
Matthew 12:36
*author unknown
Monday, May 16, 2005
Saturday, April 30, 2005
balada hari senin
matahari di awal minggu
menyapa selamat berjuang
menyapa selamat menunggu
ayoooooooo...ayunkan kakimu
berlari mengejar pintu-pintu bus
yang terbuka..menanti kau naik
dan siap juga meninggalkanmu
di balik lembar lebar buku doa kecil biru
melirik aku was was menunggu
jangan sampai bus tercinta lewati aku
wus..wus..wus...
mobil-bus-motor-orang-orang
hendak kemana mereka..?
seperti aku juga
hendak kemana aku..?
itu dia..itu dia..
bus penuh sesak nafas
kaki berhimpit, muka beradu
bau membuat hidung menyempit
lutut lutut manusia beradu
mendesak aku ke dalam
agar aku ikut bergerak berpindah
dibawa roda roda berputar
dibawa balada balada tegar
kadang prihatin juga fikirkan balada ini
sampai kapan? tanyaku.
tapi ini adalah 'puisi' yang rimanya selalu sama
tiap senin, selalu sama
tapi aku yakin,
tiap tiap hari
rima itu
punya arti yang berbeda.
Saturday, April 09, 2005
takluk
yang mengamuk tadi malam
membuat rumahku seperti kolam
tapi tak bisa buat berendam
Maaf ku pada langit
yang sudah bikin aku sengit
geludak geluduk tak mau tunduk
berujung hujan deras membasahi handuk
Maaf ku pada sungai
yang sudah menyerangai
meluapkan isi perut yang berbau bangkai
masuk dalam rumahku tanpa kompromi damai
Maaf ku pada hutan
yang akar dalamnya sudah dibabat
tak tinggalkan daun apalagi batang satu kerat
oleh manusia manusia bermartabat
Maaf ku pada khalik
yang membuat fikiran jadi terbalik
bertekuk batin menunduk tengkuk
hingga hanya satu kata meringkuk
aku takluk!
balada atap sekolah
aku pulang
kakiku kena palang
bertancap paku
di ruang kelasku
bu bu bu
kata bu guru
tadi malam
ada badai menderu
atap sekolah jatuh ke tanah
rebah tak punya sangga
aku jalan tak bersepeda
juga tak bersepatu
bu bu bu
paku itu menancap di kakiku
teriak teriak aku pulang
karena toh juga teman teman
semua pulang
bu bu bu
kapan aku bisa kembali sekolah
beratap kayu beralas sepatu
karena atapku kini langit biru
dan alasku tertancap paku
*keprihatinan untuk banyak gedung sekolah yang rubuh, karena tidak ada biaya perbaikan, ditengah kota yang mewah dan dengan mal mal angkuh memandang ke bawah atap gedung sekolah-sekolah yang menanti saat rubuh.
tertinggal
Tangan yang menggenggam
Rayu yang palsu
Kemeja biru kotak kotak dadu
Mata ini tahan tak kedip
Hati ini tahan tak berkutik
Sampai rasio ku terpenjara
Tanpa ku beri kesempatan bicara
Tak butuh aku belahan jiwamu kini
Tak hendak aku perduli pranata mu kini
Ku cari senyummu yang dulu
Ku cari sejuk hatimu lalu
Ada, tak..!!
Hadir, tak..!!
Tampak, tak..!!
Senyum-mu, tertinggal di bulan..!!
poetry for charles-camilla
Today is Charles and Camilla wedding day.Britain's Poet Laureate Andrew Motion has written "Spring Wedding," a poem commemorating the marriage of Prince Charles and Camilla Parker Bowles
I took your news outdoors, and strolled a while
In silence on my square of garden-ground
Where I could dim the roar of arguments,
Ignore the scandal-flywheel whirring round,
And hear instead the green fuse in the flower
Ignite, the breeze stretch out a shadow-hand
To ruffle blossom on its sticking points,
The blackbirds sing, and singing take their stand.
I took your news outdoors, and found the Spring
Had honored all its promises to start
Disclosing how the principles of earth
Can make a common purpose with the heart.
The heart which slips and sidles like a stream
Weighed down by winter-wreckage near its source --
But given time, and come the clearing rain,
Breaks loose to revel in its proper course.
Motion, asked about how he approached the writing of the peom, was quoted in the Press Assocation as saying: "This relationship has, as all the world knows, had all kinds of difficulties and trials and tribulations to deal with.
"I thought, rather than address that directly, as might be appropriate in a piece of journalism, in a poem it would be more interesting and richer to treat it in terms of this image of the stream with certain obstacles near the source, but with the passage of time beginning to run clearly in its proper course.
"That is how I feel about the whole wedding."
Friday, April 08, 2005
jingkrak jingkruk
aku jadi kemaruk
weruh wong donyo
podo garuk garuk
nggaruki kantong
nggaruki bodhong
nggaruki tletong
gak ono sing dong
jingkrak jingkruk
aku tak ning pasar ngangkruk
weruh mbok sing garuk garuk
duite ilang keno garuk
preman pasar ngangkruk
::
donyo=dunia
kemaruk=rakus
bodhong=pusar
nggaruki=menggaruk
tletong=kotoran manusia/hewan
sing=yang
dong=mengerti
ngangkruk=nama pasar di yogya
weruh=melihat
keno garuk=terkena razia petugas
Thursday, March 31, 2005
puisi terakhir
ibu..
ayo bu..bangun bu..bangun..
ayo kita bawa langkah ini ke gunung
sambil bawa selimut, baju, kerudung
lilin, buku-buku doa, sajadah, rosario
tasbih, alkitab, al-quran
semua yang buat batin kita selamat,tenang
karena tidak ada tenang lagi
tempat kaki ini menetap
getar..,geser..,guncang..,
terbelah..,runtuh..,hancur..,
gemuruh..,jatuh..,remuk..,
goyang..,pecah..
sebutir air mata sudah di ujung mata
menunggu jatuh meleleh
sementara dengkul ini tak diam saja
seperti ingin ikut meleleh
ikut jejak air mata
mana alas kakiku..!!
hilang..tertutup reruntuhan
mana tadi ibu ku?
tak kulihat sehelai pun rambutnya
helai rambut putih pun tidak,
hitam pun tak ku lihat!
seperti ingin terbang saja
bumi ini ingin berontak rupanya
tapi apa daya
aku hanya punya kaki dua
bumi terbelah
aku rebah
ditimpa nasib
ditimpa murka alam
ini puisi terakhir ku
sebelum aku beranjak
ke akhirat
Sunday, March 27, 2005
teh pagi hari
wajib ku minum, ku sruput
sebelum memulai hari
bila suatu saat aku lupa
karena buru buru kerja
teh hangat akan jadi dingin belaka
bukan karena teh yang wangi
bukan karena hangat melawan pagi
tapi
karena tangan ibu
menyedu dengan kasih
menghidang tanpa pamrih
Tuesday, March 15, 2005
tawa derita
Bagi mereka yang kaya raya
Tetes..tangis..bah..derita
Bagi mereka yang dirundung celaka
kabar ?
Apa kabar..?
Masihkah bolehkah ku tahu
maksudmu bersikap seperti itu
padaku,
dulu?
untuk yang hari minggu lalu baru saja bertemu ku
dengan anaknya yang mungil di halaman gereja
brisik
Pap..pup..pap..
Daba..da…tara..ta…
Barlaisya..barlaesyi
Dubaira..dubairi..
Vin tren srin tung
Tung srin teng jreng
Kim pang kim plung
Tak glentak glentak..gong...
Zum pir zum par ping
Pinininininininini...wwww
Vuraiyasama..sama tarrr...katakzzz
Bu bap buap..baaaaaap
Yerwangg..wirrr..yer wanghongg..
Zu zap zuappp..zaaaappp
BERISIIIIIKKKK...
Apa sih, maumu?
aku dan kuda tarik
tidur....sarapan...kerja...makan...tidur...
ngantuk..bangun...dewasa...
kawin...beranak...tua...renta...mati.
lalu...
Apa bedanya aku
dengan si kuda tarik?
jendela melambai
arrghh..hik..hik..ehhheh.eh..
Tak bisa benda mati ini
membuat orang bisa membaca tangisan ku.
Tapi ku kan tetap menangis…
Whua..ihk..ihk..aakkk..ih..ishk..
Bulan masih mengintip
Di atas jembatan raya
Pergi kau bulan
Sirna saja kau dari ujung-ujung awan
Tak rela kah engkau pagi menjelang
Sepertinya kau masih ingin aku tidur
dibuai terpa angin malam
Tapi riuh pagi sudah menuntut langkah
untuk pergi ke luar rumah tiap hari.
Meninggalkan pagar-pagar
jendela-jendela
rumah-rumah kecil
yang melambaikan tangan
melepas aku pergi beradu nyali dan nurani
setiap hari.
Monday, March 14, 2005
diam sajalah
tersandung sandung aku
mendayung dayung aku
sampai ke pulau nasib
arus hidup
bawa aku dengan perahuku
arahkan ujung dayungku
kemana nur tak kan redup
angin menampar muka
ombak membuih
mentari mendidih
nyiur merintih sedih
tak hendak aku lurus
tak hendak aku belok
tak hendak aku berbalik
tak hendak aku mundur
aku memilih diam
hati tak sampai
menanyakan kabarmu
tak sampai hati ku
mengungkit ungkit
masa lalu yang dulu
tak sampai hati ku
menanyakan alasanmu
pura pura dekat dengan ku
dulu
Monday, March 07, 2005
i saw jesus
I saw Jesus last week.
He was wearing blue jeans and an old shirt.
He was up at the church building;
He was alone and working hard.
For just a minute he looked a little like one of our members.
But it was Jesus, I could tell by his smile.
I saw Jesus last Sunday.
He was teaching a Bible class.
He didn't talk real loud or use long words,
But you could tell he believed what he said.
For just a minute, he looked like my Sunday School teacher.
But it was Jesus, I could tell by his loving voice.
I saw Jesus yesterday.
He was at the hospital visiting a friend who was sick.
They prayed together quietly.
For just a minute he looked like Brother Jones.
But it was Jesus, I could tell by the tears in his eyes.
I saw Jesus this morning.
He was in my kitchen making my breakfast and fixing me a special lunch.
For just a minute he looked like my mom.
But it was Jesus, I could feel the love from his heart.
I see Jesus everywhere,
Taking food to the sick,
Welcoming others to his home,
Being friendly to a newcomer
and for just a minute I think he's someone I know.
But it's always Jesus, I can tell by the way he serves.
May someone see Jesus in you today.
*author unknown
Thursday, March 03, 2005
jalan - hidup
orang berjalan
pasti melihat jauh ke depan
tidak melulu menunduk
hanya melihat ujung jempol kaki
orang hidup
hendaknya melihat jauh ke depan
tidak melulu menunduk
hanya melihat ujung hari
tobat
alasan yang
dibuat manusia
untuk mengatakan
'aku orang baik-baik..!'
hanya satu
alasan yang
bisa dibuat
Tuhan untuk
mengampuni manusia
'tobat...!'
Wednesday, March 02, 2005
jalan pulang
pulang
dari karawaci
hingga sampai pada
tepi trotoar dekat kali
berantri antri
mobil mobil pribadi
dan bus bus
wira wiri
berdesakan kanan kiri
sibuk mataku
melihat panggung musik puisi
di atas roda roda
dengan gitar dan tak tertinggal
sebuah kantung kumal
tahu,koran,duku,pena,guntingkuku
lem powerglue,keripik,puisi,lagu
juga ikut berantri antri
menanti dibeli
mata ini terkatup terus
sampai ada yang berteriak teriak
pancoran! pancoran! pancoran!
maka mata siap terbelalak
Tuesday, March 01, 2005
Monday, February 28, 2005
cepat antri
satu liter
masih
seribu delapan
ratus
besok pagi
satu liter
sudah
dua ribu
empat ratus
ayo cepat antri!!!!