Sunday, February 26, 2006

sisakan satu bintang

diam kau burung burung hantu
kau kedip kedipkan saja matamu
tanpa boleh kau keluarkan suara uuuuu -mu
yang membuat berdiri kudukku
diam kau jangkrik
kau gerak gerak saja tanpa derik
bikin gatal kupingku yang
sudah mulai bergerak gerik
diam kau malam
kau tunda dulu saja
bulan sabit hari ini
simpan sampai aku bilang
terbitlah kau, sekarang!
kau simpan saja
bintang bintangmu di awan
di peti rahasiamu yang
tak kunjung kutemukan
kunci padanannya
sisakan satu saja
untuk aku pandang
dari jendela kamarku
tempat biasanya aku
menebar pandang

mu..

jauhmu
diammu
hilangmu
sembunyimu
tembok hatimu
rahasiamu
jarakmu
sembilan
kali
sepuluh
pangkattujuh
tahun
cahaya

pfffuff...!
sebenarnya aku lelah

satire cinta

Voila..!!
Mari berburu cinta
dihutan dimana sayap sayap
terbang bergelepak gelepak
di paruhnya tergantung
tawaran tawaran bernama
umpan cinta
mari lihat lihat
di coba coba dulu
diintip intip
kalau tidak suka, putus saja
kata GusDur : "gitu saja kok,repot!"
kenapa musti kautunda tunda
cinta yang bertubi-tubi tiba
eitz..awas..!!
yang se-...
yang se-...
yang se-...
hihihihihihiihi
kau tau kan maksud aku sebenarnya?

jauh di bawah kolam

aku berenang renang
bersama udang udang
ganggang ganggang
bergentayangan
bergoyang goyang

dan aku meradang
menunggu waktu
yang meyakinkan aku
untuk bilang sayang
pada seseorang

teringat

Bapak..
pergimu
adalah 3 bait puisi
yang belum sempat
aku bacakan
untuk menjadi
bekal pergimu

Monday, February 20, 2006

bisikan kala

ah..santai dulu
bahuku bersandar pada jarum panjang jam dinding
yang juga bersandar pada sebidang dinding
kaki kuletakkan pada jarum pendeknya
kubiarkan ikut berputar mengintai waktu

sambil telingaku kurapatkan
dekat mesin waktu itu
siapa tau..
dia bocorkan rahasia masa depanku

narapidana

dua narapidana
saling pandang
pada dua sel
yang berseberangan
wajahnya menempel
pada jeruji besi dingin
bernama jarak, rahasia
waktu, serta kenyataan

dua narapidana
adalah kita...

keringat dan langit

debu debu kota
asap asap celaka
kibas kaki amarah
panas surya terik
urat nadi
mengkilat mengalir
keringat pada
kanal kanal nadi
tulang dada
yang terlihat nyata
terangkat rebah
rebah terangkat
tatap hidup
untuk hari ini saja
bibir tak lelah
memanggil rupiah
kering retak retak
lekat putih perih
alis adalah
satu satunya
penahan keringat
yang tak jadi turun
keburu diseka lap
lap kumal
yang diangkat
dari bagian bawah
kaus dekil melar
kecap mulut
tak berharap nikmat
mungkin cuma doa
penyambung suara
pada penguasa langit
di atas sana

Thursday, February 16, 2006

fenomena

cetat cetit
cenyum cenyum cendili
chatting chatting
cium cium

akh!

cinta itu candu
capa cetuju?

pada suatu pagi

kue donat kue bola
langah langkah malas
ujung ujung sapu lidi
mencakar halaman
milik seorang betawi malas
beranak empat
kucing mencari rejeki
mengkais kais
tumpukan pojok sampah berlalat
ibu haji menyapa basa basi
tukang sayur lewat
memanggil sang rejeki
wira wiri
hampir tabrak lari
buru buru
takut tertinggal troli

pagi itu
matahari menyimpan iri
manusia selalu sibuk
mencari rejeki
hingga lupa
pada yang hakiki

Tuesday, February 14, 2006

perjumpaan

temui aku..bukan dimana
temui aku..bukan jam berapa
temui aku..bukan hari apa
termui aku..bukan tanggal berapa

temui aku saat ini juga
saat sayang tak bisa disimpan lama
dan rindu tak bisa menahan kala
temui aku saat ini juga
di awan berjejal bintang bercahaya

Monday, February 06, 2006

ulang tahun

27 tahun

makin banyak umur
makin sedikit waktu hidup

ya, tokh?

Sunday, February 05, 2006

lalu apa

Percik - pecah - sebagian kecil
Nyala..redup..nyala..redup
Dibalut awan
Disiram hujan
Kuyup remuk tak berbentuk
Hancur lagi
Mengais kais kenyataan
Diantara tumpukan mimpi
Memanaskan udara
Agar kabut hilang
Memanaskan hati
Agar air mata tumpah lagi
Aku seperti berkelana
Mencari cari menduga duga
Tak habis habis
Walau lidah kelu tanpa doa
Cari itu tetap saja punya makna

Tak tahu
Setelah ketemu

Lalu apa?