Sunday, July 31, 2005

untuk anak anak pagi

kantung kantung
hitam plastik
digenggam di jari jari kusam
menunggu bus yang kusam pula
se kusam kulit dan nasibmu,nak

kita ini sesungguhnya sama
mengisi hari hari
menjalani nasib
menapaki tapak hidup
yang sudah ada sebelum hari ini

kita tinggal ikut
kita tinggal larut
di bawah matahari yang sama
di kepul debu yang sama
di recahan waktu yang tak bisa
kita tahu, kemana ujungnya

kutitipkan doa setiap bunda
untuk anaknya
pada bahumu yang kurus
dan matamu yang tanpa harap
yang hanya berani menatap mentari
yang empunya memberimu garis hidup
seperti yang kau pikul hari ini

setiap tangan mu
merogoh lobang sepatu
tuan tuan puan puan
di terminal lusuh debu itu

kau tinggalkan kilap
kau kibaskan debu

namun tangis batinmu
tak bisa hilang

hanya dalam sewaktu

note:
Sajak ini terinspirasi dari puluhan anak anak kecil..yang tiap hari selalu bersama saya menunggu bus kota..di halte ciliwung. mereka adalah anak anak penyemir sepatu yang sehari harinya mencari nafkah di terminal blok M. tiap anak selalu membawa kantung hitam. isinya hanya 3 benda : sikat,semir,dan lap

kuasa surga

kuhampiri kau
wahai nasib
ku salami kau
wahai hidup
ku sapa kau
wahai lahir
ku tanya kau
wahai derita
ku tampar kau
wahai mulut lancang
ku seka kau
wahai tangis
ku balut kau
wahai luka
ku sisir kau
wahai kusut rambut
ku hunus kau
wahai jahanam
ku intai kau
wahai musuh
ku tebar kau
wahai kuncup melati
ku tantang kau
wahai panglima
ku gertak kau
wahai penggoda

dan aku mulai bernyanyi
lagu lagu bisu

tanpa ku bisa melawan

pada kuasa surga

cinta

akan ku sandra
kenyataan kenyataan
yang lalu lalang
di depan mata ku

kukalungkan clurit
pada nadi tangannya
kuhunuskan pisau
pada ulu hatinya

sampai aku mau menukarnya

dengan sebuah rasa bernama

cinta

tentang cinta

lalu kau tertidur di sisi malam
sendiri, terdengar bisikan lirih di sela-sela bibirmu
yang semakin membiru
dalam gelap yang mulai temaram

tak pernah kau tanyakan lagi cinta itu
yang mungkin menjauh, mungkin pula membeku
biarlah malam ini berakhir, itu pikirmu
namun hatimu seakan terpuruk di situ

adakah cinta yang menjadikan dukamu harus terlahir?

Jakarta, 7 November 2002
oleh syahfida
www.cybersastra.net

marah

persetan dengan
kata kata
yang bikin muak
yang ku dengar dari mulutmu

perempuan di mata mu
tak lebih dari sekedar
sandingan yang pantas
untuk seorang KAU
yang sedang berpantas pantas diri
untuk jangan sampai disebut
PERJAKA TUA

pagi ini
aku jadi marah!!

takut

semakin aku sayang
semakin dalam aku
membuat kawah luka
di dasar batinmu

kini kau suka
kelak saat waktu itu
*mungkin* tiba
saat kucabut pisauku
yang menohok dalam

ku tinggalkan
kau bekas
duka
luka
darah
nanah

yang tak akan mudah

mengering

lalu hilang

mawar

kutitipkan impianku
pada bunga mawar yang masih kuncup
selagi ia tidur

dan saatnya rekah
akan ku tanya padanya
mimpikan apa ia
tentang aku

Thursday, July 28, 2005

sajak sajak lain oleh sapardi

::YANG FANA

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

::KUKIRIMKAN PADAMU

kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.
Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.

::AIR SELOKAN

"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.

Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.

Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:
"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"
Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.

::AKULAH SI TELAGA

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya

::ATAS KEMERDEKAAN

kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari yang ketujuh tiba

sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu :
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah

Horison
Thn III, No. 8
Agustus 1968
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

::BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari
matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri
yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

::CARA MEMBUNUH BURUNG

bagaimanakah cara membunuh burung
yang suka berkukuk
bersama teng-teng jam dinding
yang tergantung sejak kita belum dilahirkan itu?

soalnya ia bukan seperti burung-burung
yang suka berkicau setiap pagi
meloncat dari cahaya ke cahaya
di sela-sela ranting pohon jambu
(ah dunia di antara bingkai jendela!)
soalnya ia suka mengusikku tengah malam,
padahal aku sering ingin sendirian
soalnya ia baka

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

::DI ATAS BATU

ia duduk di atas batu
dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya
di air sehingga memercik ke sana ke mari
ia pandang sekeliling :
matahari yang hilang - timbul
di sela goyang daun-daunan,
jalan setapak yang mendaki tebing kali,
beberapa ekor capung
-- ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

::DI SEBUAH HALTE BIS

Hujan tengah malam
membimbingmu ke sebuah halte bis
dan membaringkanmu di sana.
Kau memang tak pernah berumah,
dan hujan tua itu
kedengaran terengah
batuk-batuk dan tampak putih.
Pagi harinya
anak-anak sekolah
yang menunggu di halte bis itu
melihat bekas-bekas darah
dan mencium bau busuk.
Bis tak kunjung datang.
Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu.
Mereka menjadi kesal dan,
bagai para pemabok,
berjalan sempoyongan
sambil melempar-lemparkan buku
dan menjerit-jerit
menyebut-nyebut namamu.

perahu kertas
kumpulan sajak
1982

::PERTAPA

Jangan mengganggu:
aku, satria itu,
sedang bertapa dalam sebuah gua,
atau sebutir telur,

atau.
sepatah kata
-- ah, apa ada bedanya.
Pada saatnya nanti,
kalau aku sudah dililit akar,
sudah merupakan benih,
sudah mencapai makna
-- masih beranikah kau menyapaku, Saudara?

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

::PERAHU KERTAS

Waktu masih kanak-kanak
kau membuat perahu kertas
dan kau layarkan di tepi kali;
alirnya Sangat tenang,
dan perahumu bergoyang menuju lautan.

"Ia akan singgah di bandar-bandar besar,"
kata seorang lelaki tua.
Kau sangat gembira,
pulang dengan
berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu
kau pun menunggu
kalau-kalau ada kabar dari perahu
yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya
kau dengar juga pesan si tua itu,
Nuh, katanya,

"Telah kupergunakan perahumu itu
dalam sebuah banjir besar
dan kini terdampar di sebuah bukit."

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

::PERISTIWA PAGI TADI

Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.

Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, Ialu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.

Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu tentang aku yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulans dan meninggal sesampai di rumah sakit.

Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa itu.

::PESAN

Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya.
Kami saling mencinta, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.
Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan .....

::PESTA

pesta berlangsung sederhana.
Sedikit tangis, basa-basi itu;
tinggal bau bunga gemetar
pada tik-tok jam,
ingin mengantarmu
sampai ke tanah-tanah sana
yang sesekali muncul
dalam mimpi-mimpinya
...di sumur itu,
si Pembunuh membasuh muka,
tangan, dan kakinya

::PUISI CAT AIR UNTUK RIZKI

angin berbisik
kepada daun jatuh
yang tersangkut kabel telpon itu,
"aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!"

kabel telpon
memperingatkan angin
yang sedang memungut daun itu
dengan jari-jarinya gemas,
"jangan berisik, mengganggu hujan!"
hujan meludah
di ujung gang
lalu menatap angin dengan tajam,
hardiknya, 'lepaskan daun itu!"

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982

amin

aku siap melukaimu
dan kau lukai

amin

tunggu aku

burung gereja masih hinggap di pucuk lonceng

tunggu aku

hingga kau lihat aku rebah tangis

di bawah kaki salib

awan hitam

untuk bintang

semoga masih ada awan hitam
yang justru membuat kita bisa terlihat
semakin bersinar

sapardi djoko damono

puisi puisi indah dari sapardi djoko damono

TENTANG MATAHARI
Matahari yang di atas kepalamu itu

adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil,
adalah bola lampu
yang di atas meja
ketika kau menjawab surat-suratyang teratur
kau terima dari sebuah
Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh,
adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu
sambil berkata:"Ini matahari! Ini matahari!"Matahari itu?
Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari

matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri
yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayangaku
dan bayang-bayang tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami
yang harus berjalan di depan

KAMI BERTIGA
dalam kamar ini kami bertiga:

aku, pisau dan kata --kalian tahu,
pisau barulah pisau
kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata

AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu

dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu

dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat
disampaikanawan kepada hujan yang menjadikannya tiada

MATA PISAU
mata pisau itu tak berkejap menatapmu

kau yang baru saja mengasahnya berfikir:
ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

HUJAN BULAN JUNI
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

DALAM DIRIKU

Because the sky is blue
It makes me cry (The Beatles)

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya

PADA SUATU HARI NANTI
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi of antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati


tak ada

tak ada yang lebih setia
daripada papan papan reklame
yang selalu pasti kujumpai
setiap pagi saat aku berangkat
dengan wujud yang sama
tulisan yang sama
lokasin yang sama
pada jam yang sama

doa

semoga esok pagi
matahari masih terbit
pada waktu yang sama
seperti hari hari kemarin

tandanya
masih ada yang tak pernah ingkar

Dialah Tuhan

kalau terluka

kalau suka? selamat merasa!
kalau cinta? selamat berjumpa dengannya!
kalau benci? ah..itu sementara!
kalau rindu? ah..apa mungkin jumpa!
kalau tersanjung? jangan tersandung!
kalau merasa jadi pahlawan? cepatlah sadar!
kalau nafsu menggebu? carilah Tuhan!
kalau minta dicinta? memang kau siapa?
kalau menunggu? yakinkah itu pasti?

kalau terluka? sudah ku bilang, apa..!!

sudahlah

aku rindu merasa
tapi takut berjumpa
aku rindu cinta
tapi takut diluka

sudahlah
aku jalani saja
sebagaimana ada

di sini

di tempat ini dulu
aku bisa menangis
merindu yang tak pernah aku jumpai

di sini pula
aku bisa terhanyut haru
hanya melihat deretan kata kata mu

hari ini

di sini pula
aku hanya bisa menyesali jalanku
bertemu denganmu

Thursday, July 07, 2005

ijinkan aku

untuk bintang
yang selalu ada di langit

berkediplah terus
sampai langit runtuh

dan selama itu pula
ijinkan aku
memandang ke sana

tempat bintang ada