Thursday, July 28, 2005

sapardi djoko damono

puisi puisi indah dari sapardi djoko damono

TENTANG MATAHARI
Matahari yang di atas kepalamu itu

adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil,
adalah bola lampu
yang di atas meja
ketika kau menjawab surat-suratyang teratur
kau terima dari sebuah
Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh,
adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu
sambil berkata:"Ini matahari! Ini matahari!"Matahari itu?
Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari

matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri
yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayangaku
dan bayang-bayang tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami
yang harus berjalan di depan

KAMI BERTIGA
dalam kamar ini kami bertiga:

aku, pisau dan kata --kalian tahu,
pisau barulah pisau
kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata

AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu

dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu

dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat
disampaikanawan kepada hujan yang menjadikannya tiada

MATA PISAU
mata pisau itu tak berkejap menatapmu

kau yang baru saja mengasahnya berfikir:
ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

HUJAN BULAN JUNI
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

DALAM DIRIKU

Because the sky is blue
It makes me cry (The Beatles)

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya

PADA SUATU HARI NANTI
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi of antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati


No comments: