Thursday, July 28, 2005

sajak sajak lain oleh sapardi

::YANG FANA

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

::KUKIRIMKAN PADAMU

kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.
Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.

::AIR SELOKAN

"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.

Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.

Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:
"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"
Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.

::AKULAH SI TELAGA

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya

::ATAS KEMERDEKAAN

kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari yang ketujuh tiba

sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu :
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah

Horison
Thn III, No. 8
Agustus 1968
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

::BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari
matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri
yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

::CARA MEMBUNUH BURUNG

bagaimanakah cara membunuh burung
yang suka berkukuk
bersama teng-teng jam dinding
yang tergantung sejak kita belum dilahirkan itu?

soalnya ia bukan seperti burung-burung
yang suka berkicau setiap pagi
meloncat dari cahaya ke cahaya
di sela-sela ranting pohon jambu
(ah dunia di antara bingkai jendela!)
soalnya ia suka mengusikku tengah malam,
padahal aku sering ingin sendirian
soalnya ia baka

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

::DI ATAS BATU

ia duduk di atas batu
dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya
di air sehingga memercik ke sana ke mari
ia pandang sekeliling :
matahari yang hilang - timbul
di sela goyang daun-daunan,
jalan setapak yang mendaki tebing kali,
beberapa ekor capung
-- ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

::DI SEBUAH HALTE BIS

Hujan tengah malam
membimbingmu ke sebuah halte bis
dan membaringkanmu di sana.
Kau memang tak pernah berumah,
dan hujan tua itu
kedengaran terengah
batuk-batuk dan tampak putih.
Pagi harinya
anak-anak sekolah
yang menunggu di halte bis itu
melihat bekas-bekas darah
dan mencium bau busuk.
Bis tak kunjung datang.
Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu.
Mereka menjadi kesal dan,
bagai para pemabok,
berjalan sempoyongan
sambil melempar-lemparkan buku
dan menjerit-jerit
menyebut-nyebut namamu.

perahu kertas
kumpulan sajak
1982

::PERTAPA

Jangan mengganggu:
aku, satria itu,
sedang bertapa dalam sebuah gua,
atau sebutir telur,

atau.
sepatah kata
-- ah, apa ada bedanya.
Pada saatnya nanti,
kalau aku sudah dililit akar,
sudah merupakan benih,
sudah mencapai makna
-- masih beranikah kau menyapaku, Saudara?

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

::PERAHU KERTAS

Waktu masih kanak-kanak
kau membuat perahu kertas
dan kau layarkan di tepi kali;
alirnya Sangat tenang,
dan perahumu bergoyang menuju lautan.

"Ia akan singgah di bandar-bandar besar,"
kata seorang lelaki tua.
Kau sangat gembira,
pulang dengan
berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu
kau pun menunggu
kalau-kalau ada kabar dari perahu
yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya
kau dengar juga pesan si tua itu,
Nuh, katanya,

"Telah kupergunakan perahumu itu
dalam sebuah banjir besar
dan kini terdampar di sebuah bukit."

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

::PERISTIWA PAGI TADI

Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.

Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, Ialu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.

Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu tentang aku yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulans dan meninggal sesampai di rumah sakit.

Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa itu.

::PESAN

Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya.
Kami saling mencinta, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.
Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan .....

::PESTA

pesta berlangsung sederhana.
Sedikit tangis, basa-basi itu;
tinggal bau bunga gemetar
pada tik-tok jam,
ingin mengantarmu
sampai ke tanah-tanah sana
yang sesekali muncul
dalam mimpi-mimpinya
...di sumur itu,
si Pembunuh membasuh muka,
tangan, dan kakinya

::PUISI CAT AIR UNTUK RIZKI

angin berbisik
kepada daun jatuh
yang tersangkut kabel telpon itu,
"aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!"

kabel telpon
memperingatkan angin
yang sedang memungut daun itu
dengan jari-jarinya gemas,
"jangan berisik, mengganggu hujan!"
hujan meludah
di ujung gang
lalu menatap angin dengan tajam,
hardiknya, 'lepaskan daun itu!"

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982

No comments: